Hujan Dan Pelangi (cerpen sahabat)

 

 Hujan Dan Pelangi (cerpen sahabat)


Sahabat Indonesiaku

Hujan baru saja berlalu. Ya, hujan. Sudah lama rupanya hujan tak turun di hatiku ini. Namun, jangan salah sangka dulu. Hujan yang ku maksud adalah segala permasalahan yang kulalui tadi. “Apa saja yang sedang kau pikirkan saat ini? Itu hadiah yang diberikan kakakku saat ulang tahunku tahun lalu! Mengapa kau bisa menghilangkan nya? Apa yang harus kukatakan pada kakakku? Aku tak mau tahu! Pokonya kau harus mengganti cincin itu! Harus persis seperti aslinya!” Kata kata Risa itu masih terngiang di telingaku. Pada saat itu, Risa langsung meninggalkanku yang sedang bingung begitu saja. Padahal, saat itu aku sedang kebingungan. Aku lari terengah engah di sepanjang jalan yang selalu ramai dipadati oleh kendaraan bermotor itu. 


Tak terhitung sudah toko perhiasan yang telah aku kunjungi. Namun, aku tak putus asa. Aku tetap mencari cincin yang hampir mirip dengan cincin Raisa di toko manapun. Akhirnya, tibalah aku di sebuah toko kecil yang kelihatan sepi. Ketika melihatku, sang pemilik toko kelihatan senang. Dia langsung menyambutku dengan hangat. Ku katakan bahwa aku mencari cincin yang mirip dengan model cincin Risa. Untung aku sempat memotretnya di handphone ku saat dia pertama kali memakai nya. Pemilik toko itu melihat dengan seksama model cincin Risa. Lalu, dengan tersenyum, Pemilik toko itu berkata bahwa ada satu cincin yang modelnya hampir sama dengan cincin Raisa. Setelah menunggu beberapa menit, Akhirnya sang pemilik toko datang dengan membawa pesanannya. Memang, cincin itu hampir sama, namun ada sedikit perbedaan di antara keduanya. Tak apalah, yang penting sudah kudapatkan cincin itu! setelah membayarnya, aku langsung berlari menuju rumah Risa yang memang tak jauh dari situ.

Kuketuk pintu dengan pelan. Ternyata ibunya yang membukakan pintu. “O, dik Fani? Ayo duduk dulu! Risa masih pergi les, sebentar lagi pasti pulang! tunggu dulu, ya!” sambut ibu Risa hangat. “Oh, iya bu! akan saya tunggu!” balasku.

Tak lama aku menunggu Risa. Sepuluh menit kemudian, Risa datang. “O, kamu Fani? sudah ketemu belum cincinnya?” Tanya Risa cuek, tak ramah seperti biasanya. Mungkin karena dia masih marah padaku. Aku sudah mengerti itu. “Ehm, maaf Ris, aku memang belum menemukan cincin mu, tapi aku sudah menemukan penggantinya kok!”
“Benarkah? mana cincin itu? aku ingin lihat!” Jawab Risa. “Ini, dia Risa. Maaf kalau sedikit berbeda. Aku sudah cari ke seluruh toko di kota ini. Namun, hanya ini yang kutemukan. Aku minta maaf..” kataku sedikit menyesal. Risa melihat cincin itu dengan seksama. “Wow! ini bagus sekali Fani! Aku suka model cincin ini. 


Terimakasih Fani! Kau adalah sahabat terbaikku.” Kata Risa sambil memelukku. “Terimakasih, Risa! Aku sempat khawatir kamu tak suka model cincin itu. Kini aku sudah lega!” Jawabku sambil merasa lega. “Risa, aku minta maaf karena sudah memarahimu tadi. Aku tidak berpikir dahulu. Aku terburu buru memilih keputusan. Maaf, Fani.” Kata Risa. “Ah, tak apa apa. itu semua memang salahku karena tidak hati-hati.” Jawabku pelan. “Bagaimana kalau kita berjalan jalan dahulu di luar? Aku bosan sekali berada di rumah terus.” Usul Risa. “Iya! Aku juga bosan!” Jawabku.
Di luar sana sangat dingin. Tapi, juga sangat menyenangkan. “Hei, Risa! kalau aku sudah besar, aku ingin jadi photographer profesional. Untuk mengawali karir ku itu, aku akan memotret daerah dekat rumahku ini! 

Boleh, kan?” Tanya ku bercanda. “Hahaha, tentu saja, Fani! Malah, kalau kau memotret daerah dekat rumahku, kau akan jadi photographer nomor 1 di dunia! Hahaha” Jawab Risa bercanda. “Hihihi, semoga menjadi kenyataan. Amin. Kalau cita cita kamu apa Risa?” tanyaku balik kepada Risa. “Ah, aku masih bingung ingin menjadi apa. Aku ingin menjadi guru, dokter, atau penulis!” jawab Risa. “Ya, pilihlah cita cita yang sesuai hobby mu.” “Ummm, aku lebih memilih jadi dokter saja, deh! Aku kasihan kalau melihat orang orang yang tidak mampu berobat kesulitan. Aku ingin menjadi dokter untuk semua kalangan. Aku akan menarik tarif yang murah. Atau, kalau mereka kesulitan membayar, aku akan memberikan tarif gratis untuk mereka. Yang penting aku bisa menyembuhkan mereka dan mendapat pahala.” Kata Risa bersemangat. “Ya, itulah cita cita yang mulia. Kau tahu kenapa aku ingin menjadi photographer? Aku ingin berkelana kelilng dunia. Aku ingin memotret segala kebudayaan yang ada di dunia. Aku ingin mengenalkan kebudayaan suatu negara kepada dunia. Aku ingin melestarikan segala budaya yang hampir punah dengan memotret nya dan mengenalkan lalu memberi penjelasan kepada dunia. Itulah alasan mengapa aku ingin menjadi photographer!” Jelasku panjang lebar. “Wow! Itu begitu mulia dan hebat, Fani!” Kata Risa memujiku. 


“Hahaha, cita cita mu juga. Semoga kita semua dapat meraih cita cita yang kita inginkan, ya! Amin ya robbal alamin.”
Lalu, kami berjalan jalan dengan riang dan berkejar kejaran. Kami sangat senang hari itu. Kini, Risa telah belajar bagaimana mengendalikan diri dan berpikir dengan jernih. Aku pun telah belajar agar aku dapat lebih waspada lagi dan tidak ceroboh. Ini semua berkat persahabatan kami yang unik. Aku senang memiliki sahabat seperti Risa. Risa pun juga merasa begitu. Inilah akhir dari ceritaku. Hujan telah berlalu. Kini datanglah pelangi indah yang menerangi jalan kami. Ya, pelangi. Pelangi dengan cahaya warna warni nya yang sangat indah dan penuh dengan kebahagiaan. Kini pelangi itu hadir dalam persahabatan kami. Semoga kami dapat meraih cita cita dan menjadi sukses. Amin ya robbal alamin.

Cerpen Karangan: Sophia Arina Zahra
Blog: sophiaarinazahra.blogspot.com
Umur: 12 thn
Sekolah: SMPN 01 Kediri
twitter: @sophia_arina

Terima kasih telah membaca cerpen di atas