Tampilkan posting dengan label Cerpen Sahabat. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Cerpen Sahabat. Tampilkan semua posting
Cerpen Gokil dan Lucu: Tukang Mie Ayam Main Facebook

Sahabat Indonesiaku 

Kejadian ini bermula ketika secara tak sengaja aku berpapasan dengan tukang mie ayam keliling yang biasa beredar di depan rumah. Siang itu, kulihat dia tengah berasyik masyuk di pinggir jalan, cekikikan sambil melihat sesuatu yang ada di tangannya. Bahkan saking asiknya, gerobak mie ayam itu ditinggalkannya begitu saja, seakan mengundang pemulung jail untuk mengangkutnya.Karena penasaran, diriku pun bertanya:"Mas Jason (panggil saja demikian, karena dia sering dipanggil Son ama pelanggannya "Son..mie ayamnya siji maning sooon.."), sedang apa kok asik bener di pojokan? "Eh mas ganteng...( satu hal yang aku suka dari Jason adalah : Orangnya suka
bicara Jujur!), ini mas, lagi update status!!..." jawab Mas Jason.


***WADEZIG!!!"Weehhh... njenengan fesbukan juga to??" tanyaku heran."Ya iyalah mas... hareee geneee ga fesbukan?! Lagian kan lumayan juga buat menjaring pelanggan lewat fesbuk, kata pak Hermawan Kertajaya kan dalam berdagang kita harus selalu melakukan diferensiasi termasuk dalam hal pemasaran mass." jawabnya lagi dengan penuh keyakinan.


***GLEK!!
Gw yang sering naik Kereta ke Jawa aja gak tau kalo ada yg namanya Hermawan Kereta Jaya

"Emang mas statusnya apa?" tanyaku penasaran.

"Nih mas aku bacain:
Promo Mie Ayam, beli dua gratis satu mangkok, beli tiga gratis nambah kuah, beli empat gratis timbang badan...takutnya anda obesitas...segera saya tunggu di gang Jengkol, depan tengkulak Beras Mpok Hepi. Mie Ayam Jason: Melayani dengan Hati... ampela, usus dan jeroan ayam lainnya." sambil menunjukan handphone-nya.

***GUBRAK!!
Dua kosong untuk mas jason. Gw yg uda lama fesbukan aja ga bisa bikin status se--atraktif dia.

Tapi ada yg aneh pas kulirik ke handphone  yang dia pake. Aku kira handphone-nya blackberry atau minimal nokia seri baru yang uda bisa pake internetan. Selidik punya selidik, ternyata...handphone-nya lawas bin jadul. HP yang masih monokrom, suara belum poliponik, dan masih pake antena luar kayak radio AM.

"Mas, tapi kok bisa update fesbuk pake henpon sederhana gitu? (bahasa halusnya henpon lawas). Gimana caranya?? tanyaku bingung.

"Owwh.. gampang mas, saya tinggal nulis statusnya lewat SMS lalu kirim ke Tri.” jawab dia datar.

"Ohh.. mas nya pake Kartu Three ya? Yang gratis internetan itu?" tanyaku lagi.

"Bukaaaan mas, Tri itu lengkapnya Tri Ambarwati. Dia itu pacar saya, sama-sama dari Tegal, yang kerjaannya jagain Warnet 24 Jam! Jadi kalo butuh update, tinggal sms dia aja nanti dia yang gantiin status saya. Lha wong dia tiap hari di depan komputer jagain warnet. Paling sebagai balesannya saya gratisin mie ayam seminggu sekali...murah to??" jawabnya sambil cengengesan.

Mendadak kepalaku pusing, bagaikan menderita dehidrasi akut sekaligus hipotermia tingkat tiga. Aku limbung mendengar jawaban SPEKTAKULER dari Mas Jason...BRUK!!


Cerpen Gokil dan Lucu: Tukang Mie Ayam Main Facebook

 Hujan Dan Pelangi (cerpen sahabat)


Sahabat Indonesiaku

Hujan baru saja berlalu. Ya, hujan. Sudah lama rupanya hujan tak turun di hatiku ini. Namun, jangan salah sangka dulu. Hujan yang ku maksud adalah segala permasalahan yang kulalui tadi. “Apa saja yang sedang kau pikirkan saat ini? Itu hadiah yang diberikan kakakku saat ulang tahunku tahun lalu! Mengapa kau bisa menghilangkan nya? Apa yang harus kukatakan pada kakakku? Aku tak mau tahu! Pokonya kau harus mengganti cincin itu! Harus persis seperti aslinya!” Kata kata Risa itu masih terngiang di telingaku. Pada saat itu, Risa langsung meninggalkanku yang sedang bingung begitu saja. Padahal, saat itu aku sedang kebingungan. Aku lari terengah engah di sepanjang jalan yang selalu ramai dipadati oleh kendaraan bermotor itu. 


Tak terhitung sudah toko perhiasan yang telah aku kunjungi. Namun, aku tak putus asa. Aku tetap mencari cincin yang hampir mirip dengan cincin Raisa di toko manapun. Akhirnya, tibalah aku di sebuah toko kecil yang kelihatan sepi. Ketika melihatku, sang pemilik toko kelihatan senang. Dia langsung menyambutku dengan hangat. Ku katakan bahwa aku mencari cincin yang mirip dengan model cincin Risa. Untung aku sempat memotretnya di handphone ku saat dia pertama kali memakai nya. Pemilik toko itu melihat dengan seksama model cincin Risa. Lalu, dengan tersenyum, Pemilik toko itu berkata bahwa ada satu cincin yang modelnya hampir sama dengan cincin Raisa. Setelah menunggu beberapa menit, Akhirnya sang pemilik toko datang dengan membawa pesanannya. Memang, cincin itu hampir sama, namun ada sedikit perbedaan di antara keduanya. Tak apalah, yang penting sudah kudapatkan cincin itu! setelah membayarnya, aku langsung berlari menuju rumah Risa yang memang tak jauh dari situ.

Kuketuk pintu dengan pelan. Ternyata ibunya yang membukakan pintu. “O, dik Fani? Ayo duduk dulu! Risa masih pergi les, sebentar lagi pasti pulang! tunggu dulu, ya!” sambut ibu Risa hangat. “Oh, iya bu! akan saya tunggu!” balasku.

Tak lama aku menunggu Risa. Sepuluh menit kemudian, Risa datang. “O, kamu Fani? sudah ketemu belum cincinnya?” Tanya Risa cuek, tak ramah seperti biasanya. Mungkin karena dia masih marah padaku. Aku sudah mengerti itu. “Ehm, maaf Ris, aku memang belum menemukan cincin mu, tapi aku sudah menemukan penggantinya kok!”
“Benarkah? mana cincin itu? aku ingin lihat!” Jawab Risa. “Ini, dia Risa. Maaf kalau sedikit berbeda. Aku sudah cari ke seluruh toko di kota ini. Namun, hanya ini yang kutemukan. Aku minta maaf..” kataku sedikit menyesal. Risa melihat cincin itu dengan seksama. “Wow! ini bagus sekali Fani! Aku suka model cincin ini. 


Terimakasih Fani! Kau adalah sahabat terbaikku.” Kata Risa sambil memelukku. “Terimakasih, Risa! Aku sempat khawatir kamu tak suka model cincin itu. Kini aku sudah lega!” Jawabku sambil merasa lega. “Risa, aku minta maaf karena sudah memarahimu tadi. Aku tidak berpikir dahulu. Aku terburu buru memilih keputusan. Maaf, Fani.” Kata Risa. “Ah, tak apa apa. itu semua memang salahku karena tidak hati-hati.” Jawabku pelan. “Bagaimana kalau kita berjalan jalan dahulu di luar? Aku bosan sekali berada di rumah terus.” Usul Risa. “Iya! Aku juga bosan!” Jawabku.
Di luar sana sangat dingin. Tapi, juga sangat menyenangkan. “Hei, Risa! kalau aku sudah besar, aku ingin jadi photographer profesional. Untuk mengawali karir ku itu, aku akan memotret daerah dekat rumahku ini! 

Boleh, kan?” Tanya ku bercanda. “Hahaha, tentu saja, Fani! Malah, kalau kau memotret daerah dekat rumahku, kau akan jadi photographer nomor 1 di dunia! Hahaha” Jawab Risa bercanda. “Hihihi, semoga menjadi kenyataan. Amin. Kalau cita cita kamu apa Risa?” tanyaku balik kepada Risa. “Ah, aku masih bingung ingin menjadi apa. Aku ingin menjadi guru, dokter, atau penulis!” jawab Risa. “Ya, pilihlah cita cita yang sesuai hobby mu.” “Ummm, aku lebih memilih jadi dokter saja, deh! Aku kasihan kalau melihat orang orang yang tidak mampu berobat kesulitan. Aku ingin menjadi dokter untuk semua kalangan. Aku akan menarik tarif yang murah. Atau, kalau mereka kesulitan membayar, aku akan memberikan tarif gratis untuk mereka. Yang penting aku bisa menyembuhkan mereka dan mendapat pahala.” Kata Risa bersemangat. “Ya, itulah cita cita yang mulia. Kau tahu kenapa aku ingin menjadi photographer? Aku ingin berkelana kelilng dunia. Aku ingin memotret segala kebudayaan yang ada di dunia. Aku ingin mengenalkan kebudayaan suatu negara kepada dunia. Aku ingin melestarikan segala budaya yang hampir punah dengan memotret nya dan mengenalkan lalu memberi penjelasan kepada dunia. Itulah alasan mengapa aku ingin menjadi photographer!” Jelasku panjang lebar. “Wow! Itu begitu mulia dan hebat, Fani!” Kata Risa memujiku. 


“Hahaha, cita cita mu juga. Semoga kita semua dapat meraih cita cita yang kita inginkan, ya! Amin ya robbal alamin.”
Lalu, kami berjalan jalan dengan riang dan berkejar kejaran. Kami sangat senang hari itu. Kini, Risa telah belajar bagaimana mengendalikan diri dan berpikir dengan jernih. Aku pun telah belajar agar aku dapat lebih waspada lagi dan tidak ceroboh. Ini semua berkat persahabatan kami yang unik. Aku senang memiliki sahabat seperti Risa. Risa pun juga merasa begitu. Inilah akhir dari ceritaku. Hujan telah berlalu. Kini datanglah pelangi indah yang menerangi jalan kami. Ya, pelangi. Pelangi dengan cahaya warna warni nya yang sangat indah dan penuh dengan kebahagiaan. Kini pelangi itu hadir dalam persahabatan kami. Semoga kami dapat meraih cita cita dan menjadi sukses. Amin ya robbal alamin.

Cerpen Karangan: Sophia Arina Zahra
Blog: sophiaarinazahra.blogspot.com
Umur: 12 thn
Sekolah: SMPN 01 Kediri
twitter: @sophia_arina

Terima kasih telah membaca cerpen di atas

Hujan Dan Pelangi (cerpen sahabat)